The Red Palace dari June Hur adalah novel tentang pergulatan perempuan rakyat jelata mencari keadilan demi orang yang dia sayangi. Pusaran politik dan kekuasaan, hubungan rumit anak-orang tua, sampai patriarki yang masih sangat kental di zaman dulu membuat tokoh utama di buku ini menjadi babak belur dihajar 'penulisnya' sendiri.
Btw, The Red Palace adalah buku pertamaku setelah beberapa bulan tidak membaca buku. Jujur, sulit sekali melewati bab pertama di buku ini. Entah karena aku yang sudah kecanduan drama cina short sehingga rentang fokusku jadi sangat pendek atau karena plot buku ini yang memang cukup lambat pada awal kisah. Tapi, setelah menyelesaikan The Red Palace, aku siap membaca buku lagi.
Sinopsis The Red Palace
Buku ini berlatar tahun 1758, di korea selatan zaman Joseon. Kisah ini diawali dengan tokoh Hyeon, seorang perawat istana yang bersikeras menyelidiki kasus kematian yang terjadi di lingkungan klinik kesehatan istana di mana 4 rekan kerjanya tewas terbunuh. Mentornya menjadi tersangka utama disiksa petugas kepolisian di depan umum yang membuat Hyeon rela membahayakan dirinya untuk bisa mengulik kasus ini sampai tuntas.
Di tengah pencarian bukti, Hyeon bertemu dengan inspektur muda Seo. Inspektur Seo yang masih idealis menemani Hyeon untuk mengusut kasus yang ternyata sangat carut-marut. Ada beberapa tersangka di kasus ini, termasuk di dalamnya adalah putra mahkota Jangheon.
Pencarian mereka berdua membawa banyak masalah, mulai dari ketertarikan putra mahkota pada Hyeon, penyebaran isu bahwa pelaku pembantaian ini adalah putra mahkota, sampai konflik pribadi antara Hyeon dengan ayahnya.
Posisi Hyeon adalah anak haram dari petinggi pejabat bagian hukum dengan seorang gisaeng. Hyeon seringkali mengalami dilema karena ayahnya hanya mengkritik, menuntut, dan terus merendahkan Hyeon.
Bagian problematika rumit antara Hyeon dan ayahnya dengan sangat tepat dijelaskan penulis dengan kalimat yang sangat indah tapi menyayat hati di halaman 116.
Para ayah sungguh menakutkan
Aku tahu cara menjaga hatiku agar tetap tenang dalam menghadapi kematian maupun kondisi sekarat, atau pasien yang berteriak-teriak, tetapi satu saja perkataan tajam dari ayahku, aku langsung menjadi anak yang rapuh.
Aku begitu ingin diterima olehnya.
Dan aku begitu benci perasaan ini; aku berharap perasaan ini enyah dariku.
Aku sempat berhenti baca di halaman ini untuk meresapi perasaan Hyeon yang malang. Anak memang selalu ingin dicintai orang tuanya, dan Hyeon melakukan segalanya untuk sempurna di bidangnya tapi kasih sayang dan pengakuan itu tidak kunjung datang.
Hal yang Aku Suka di The Red Palace
Hal yang justru aku sukai dari buku ini bukan pencarian bukti pembunuhan, tapi selingan konflik seperti patriarki yang masih sangat kental di zaman itu, kelakuan putra mahkota yang astagfirullah, semua pihak istana yang dikontrol untuk melindungi pejabatnya sampai di titik tidak masuk akal, dan politik istana yang membuat kebenaran menjadi sulit sekali untuk dibuktikan. Terdengar familiar, ya?
Pada dasarnya sifat kekuasaan memang mirip-mirip.
Hyeon dan Kisah Cinta di The Red Palace
Aku sempat mengira Hyeon akan memikat perhatian Putra Mahkota sampai di titik ia akan dijadikan semacam selir, ternyata tidak. Syukurlah. Aku berpikir begitu karena Hyeon sempat melihat bagaimana Putra Mahkota Jangheon mengalami posisi rentan saat dimarahi ayahnya di depan pejabat publik.
Spoiler alert, Hyeon akan cinlok dengan salah satu karakter di buku ini. Namun, karena kisah cinta ibunya yang kacau balau dengan ayahnya sendiri, Hyeon mengalami krisis kepercayaan dengan pria bangsawan. Ayah Hyeon memang cerminan laki-laki kurang ajar yang hanya memprioritaskan nafsu. Setelah membuat Hyeon dan ibunya sengsara, ayah Hyeon kini memiliki gundik baru.
Btw, di akhir buku ini, penulisnya mencatat sedikit fakta yang ada di novel ini. Putra mahkota Jangheon adalah tokoh asli di sejarah korea yang memang memiliki kencenderungan kekerasan. Menurut penulisnya, di sejarah tertulis bahwa Putra Mahkota Jangheon sudah membunuh 100 orang bawahannya. Korban pembunuhannya termasuk para kasim, dayang istana, pelayan, hingga selirnya sendiri.
Tarik nafas dulu sebelum mengeluarkan pepatah lama; Truth is stranger than fiction.
Selamat membaca The Red Palace.
Baca juga: Rentan (Sebuah Catatan dari Novel The Red Palace)






0 Comments
Post a Comment