Aku baru saja melanjutkan lagi membaca novel The Red Palace karya June Hur. Yap, entah karena apa aku merasa bahwa memang kemampuan membacaku menurun sangat jauh. Aku tidak bisa lagi menghabiskan buku dalam satu-dua hari. Aku bahkan butuh hitungan bulan untuk menyelesaikan satu novel dari June Hur ini. Yeah, setidaknya sekarang aku sudah ada di bab 5.

Ada satu paragraf yang membuat aku berhenti membaca, yakni ketika penulis menuliskan kerentanan yang dialami oleh tokoh utama dan putra mahkota yang sama-sama terkait dengan penerimaan sang ayah.


Kalimat yang ditulis oleh penulis begitu indah., bagaimana seorang hyeon yang terbiasa tenang menangani orang sekarat, bisa menjadi sangat rentan dan emosional ketika berhadapan dengan sang ayah. 


Putra mahkota juga seperti itu, ia menjadi sosok yang selalu dikritik di depan pejabat negara setiap kali ulang tahun, diaktakan tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk memimpin sebuah negara di depan umum. 


Yap, penerimaan sang ayah menjadi titik yang mungkin akan membimbing mereka menjadi semacam sejoli baru? Mungkin, aku juga gak tahu karena aku gak lanjut baca lagi soalnya mesti membuat susu formula untuk anak aku yang mau tidur tadi malam. Aku sih niatnya mau baca lagi, tapi bocilku yang paling bungsu ini gak tidur sampai jam 11. Yeah, begitulah.


Kalimat awal yang membuat pembaca (aku) merasa sangat relevan adalah ketika penulis mencatat bagaimana perasaan Hyeon terhadap kejadian yang ia lihat ketika raja mencabik-cabik lukisan putra mahkota. 


Para ayah sungguh menakutkan” 


Aku begitu ingin diterima olehnya


the red palace

Penerimaan orang tua menjadi hal yang akan sulit Hyeon terima karena statusnya sebagai anak haram. Padahal, orang lain selalu melihat Hyeon sebagai sosok tanpa cela, seorang tabib perempuan di istana yang memiliki kemampuan dan kecerdasan. Tapi, ia begitu tapuh ketika harus berhadapan dengan ayahnya.


Kadang, kita mungkin juga akan melihatnya di kehidupan nyata. Bagaimana kita menjadi sangat kuat di depan orang lain, tetapi mendadak jadi rentan karena ada relasi yang tidak kita dapatkan. Penolakan dari sosok yang begitu dekat bisa menjadi semacam titik buta di dalam sanubari.


Lalu, apa yang bisa kita lakukan?


Turunkan ekspektasi saja. Easy!


Aku kadang merasa diperlakukan berbeda, tapi aku membuat standar yang sangat rendah untuk tidak merasa kecewa lagi. Sepanjang aku tidak diusir, itu tidak masalah. Sepanjang aku tidak diludahi di depan mata, berarti tidak ada masalah. 


Sejak memasang standar yang sangat rendah, aku sama sekali tidak merasa kecewa dengan perlakuan yang mungkin sedikit berbeda dari circle terdalam yang aku anggap penting. 


Bagaimana ya, manusia memang menyebalkan, sebagaimana kita juga menyebalkan ke orang lain. Jadi ya, yang paling benar adalah tidak berharap apapun pada manusia. Take itu easy, gak ada yang personal. Yang paling penting dalam hidup tetaplah diri sendiri, pastikan kebutuhan diri sendiri terpenuhi baru memperhatikan orang lain. Ingat itu, Hyeon! Hempaskan saja ayahmu yang kolot itu. Goda saja putra mahkota yang sepertinya tampan itu! Jadilah gold digger yang sukses! 


Baca juga: Manusia dan Topeng Sehari-Hari