Aku sempat berhenti menulis dan membaca selama setahun setelah menikah karena hamil dan melahirkan. Aku merasa sangat menderita dan merasa depresi karena perubahan status menjadi ibu yang menurut aku sangat berat. Namun, penyembuh semua itu ternyata cukup mudah, aku cukup menjadi diri sendiri. Kembali menulis dan kembali membaca. 

Membaca buku dan menulis membuat aku kembali hidup. Aku ternyata butuh sesuatu yang membuat pikiranku menjadi bekerja, aku butuh untuk berpikir. Dengan membaca dan menulis, aku membuat otakku menjadi bekerja, sehingga aku punya fokus yang tidak melulu tentang anak. Aku punya fokus lain yang menjadi identitas diriku sendiri. Ibu butuh egois untuk menjadi waras. Sedikit saja rasa egois, tak perlu terlalu banyak agar tidak terlihat brengsek.


Menulis dan Membaca untuk Menjadi Diri Sendiri


mengapa menulis

Menulis dan membaca sudah jadi bagian dalam hidupku. Entah baca buku untuk urusan kuliah (dulu), untuk urusan pekerjaan (yang sangat jarang terjadi), dan untuk urusan rekreasi (yang terjadi sepanjang waktu). Buku komik Hiroshi Nohara Lunch Style sudah jadi semacam buku rekreasi yang aku suka sampai sekarang.


Lalu, ada buku misteri entah detektif Hercule Poirot, Keigo Higashino, lalu banyak buku misteri lain yang unik dan tajam dari penerbit Haru. Aku juga sempat tergila-gila dengan buku Harry Potter saat SMP, sempat suka setengah mati dengan Tere Liye saat SMA, lalu sekarang aku suka dengan buku acak yang membuat aku penasaran. 


Buku berjudul Kambing dan Hujan menjadi salah satu buku yang menurutku manis. Buku ini mengangkat ketegangan islam Muhammadiyah dan NU di zaman dulu dengan balutan romantis. Anak kiai NU anak kiai Muhammadiyah yang saling jatuh cinta tidak bisa bersatu karena perbedaan ini. Kisah cintanya sangat manis dan aku sendiri masih mengingat beberapa detail dari novel itu karena menyentuh hatiku saat membacanya. Buku ini ada di ipusnas. 


Buku lain yang masih aku ingat sampai sekarang adalah Bilangan Fu. Ada satu karakter yang aku suka mampus sampai aku menamai anak laki-lakiku dengan nama itu. Pembaca Bilangan Fu pasti tahu karakter bijaksana yang berakhir mati karena kecerobohan tokoh utamanya. 


Setelah itu, aku juga suka buku terjemahan Enam Mahasiswa Pembohong dan Salvation of A Saint dari Keigo Higashino. Buku dari Keigo yang Salvation ini membuat aku terkejut karena kita pembaca sudah diberi clue dari penulisnya bahwa ini nih pelakunya. Tapi, pertanyaan besarnya adalah how.


Setelah Membaca, maka Menulis


alasan menulis

Setelah baca buku, tentu saja aku menjadi punya banyak pernyataan dan pertanyaan. Semua unek-unek itu aku tulis atau dikatakan pada orang yang mau mendengar.  Saat ini, suamiku adalah pria malang yang harus mendengar curhatan istrinya setelah membaca novel setebal 300 halaman yang berisi kisah tragis. 


Kalau tidak ada manusia yang bersedia meminjamkan telinga, aku menuliskan semuanya. Perasaanku setelah membaca buku itu, pikiranku, dan semua pertanyaan yang ada di sanubari. Semua.


Menulis juga bermanfaat saat aku memiliki masalah. Menulis membuat aku memiliki prioritas yang jelas pada suatu kondisi. Aku memiliki fokus yang aku rasa tepat untuk diriku sendiri. Namun, memang meski aku suka menulis aku belum benar-benar menghasilkan karya besar dari menulis. Aku memang menikmati membaca fiksi, tapi menulis fiksi adalah sesuatu yang sangat berbeda.


Aku pernah bekerja dengan menulis artikel, tapi menulis fiksi benar-benar berbeda. Aku belum pernah menghasilkan uang dari tulisan fiksi. Bahkan, memenangkan lomba pun tidak. Jalan sepi menjadi penulis fiksi tampaknya masih cukup panjang. 


But still I'm here writing again.


Menulis membuat aku menjadi waras, semoga aku selalu waras dan menikmati kehidupan sebagai manusia dengan normal. Yeah, ayo cuci piring lagi.


Baca juga: Review Novel Teka Teki Rumah Aneh by Uketsu