Aku baru aja menyelesaikan kegiatan nyetrika baju kerja sambil mendengarkan podcast review e reader yang oke banget di akun Spotify Kepo Buku. Yap, ini adalah akun review buku yang host-nya adalah 3 bapak-bapak yang tentu saja sering dan ahli melontarkan jokes bapak-bapak. Di episode ini, aku mendengarkan Bapak kita tercinta, Rane, yang menjelaskan berbagai produk terkait gadget e-reader yang emang terlihat menggiurkan.
Aku sendiri emang sempat pengen banget beli e-reader macam kindle. Sempat pengen banget, meski sekarang udah gak gitu pengen. Setelah mendengar review di podcast ini, aku makin mantep untuk gak beli e-reader dulu untuk sementara ini, hahaha.
Bang Rane sendiri menjelaskan perbedaan e-reader yang akan terasa jauh berbeda dibandingkan gawai ponsel pintar yang memang sangat memanjakan mata. Gawai membaca digital ini biasanya memakai e-ink yang tidak akan membuat mata cenderung cepat lelah, seperti kalau kita membaca di ponsel pintar.
Lalu, gawai e-reader itu juga memiliki spesifikasi tertentu. Jadi, sebelum kita memutuskan mau beli e-reader yang mana, kita perlu tahu budget kita berapa dan spek apa yang kita butuhkan. Enaknya membaca buku di gawai khusus ini adalah kita gak akan terdistraksi sama notif aplikasi, gak ada iklan apapun, dan teknologi e-ink itu emang cocok untuk kegiatan membaca dalam waktu yang lama.
Sebelum beli gawai ini juga, bang Rane mengatakan bahwa kita perlu tahu kita akan membaca buku digital di mana. Kalau aku sendiri, baca buku yang aku tahu hanya di aplikasi Google Play Book, iPusnas, dan Gramedia Digital. Aplikasi lain seperti Kindle dan Kobo belum pernah coba, mungkin ada banyak buku bahasa inggris di situ. Jadi, kita emang harus paham kebiasaan membaca kita agar kita bisa beli gawai membaca yang tepat.
Kalau memang kita baca di aplikasi seperti ipusnas dll, kita perlu memilih gawai membaca yang android. Pada dasarnya, kita sebaiknya sudah pernah memiliki pengalaman membaca digital dan nyaman dengan itu sebelum membeli gawainya.
Ada kata-kata menarik dari bang Rane, yakni jangan sampai kita membeli sepatu lari yang mahal untuk memiliki hobi lari. Sama aja seperti membaca, kita tidak akan bisa mendongkrak hobi membaca dengan membeli gawai membaca yang mahal.
Pada dasarnya, emang gawai atau sepatu mahal bisa membuat kita sedikit bersemangat pada hobi tertentu untuk sementara. Tapi, akhirnya keinginan itulah yang akan membuat kita bertahan atau tidak. So, mau beli gawai membaca digital atau enggak?
Kalau untuk aku, sementara ini gak dulu lah. Aku masih sanggup baca iPusnas di ponsel pintar. Lagipula secara kuantitas, kemampuan aku dalam membaca untuk sekarang juga gak oke-oke banget lah. Aku juga masih bisa membaca buku fisik, meski harga buku fisik di kalimantan memang menyedihkan. Semoga nanti saat aku punya lebih banyak waktu luang, aku juga sudah bisa baca buku bahasa inggris dengan nyaman, aku bisa beli salah satu e-reader keren ini.
Baca juga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan






0 Comments
Post a Comment