Btw, lima hari kemarin aku sedang galau karena bingung menyusun konsep tulisan untuk lomba ASN di kumparan. Aku menulis setidaknya tiga artikel yang pada akhirnya tidak aku publish sama sekali. Aku merasa ingin menulis tentang tema populer, tapi merasa terlalu umum. Aku ingin menulis tentang keprofesianku sendiri, tapi aku merasa itu terlalu pribadi karena ada saja curhatan yang menyelinap dari jari-jariku. Lalu, aku mulai menyusun lagi artikel ketiga yang benar-benar tumpul dan aku menyerah. Hahaha, sial memang.


Aku merasa memang aku menulis hanya sekedar hobi, lalu apakah aku sebenarnya tidak memiliki bakat itu? Karena rasanya aku tidak memiliki kemajuan yang signifikan dalam beberapa tahun ini dalam melakukan hobi menulis. Ibarat cinta, aku merasa cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Sedih sekali, aku merasa ditinggal menikah padahal aku sudah cinta mati.


Dulu, aku sempat menjadikan menulis sebagai pekerjaan ketika aku masih di rumah. Aku merasa bangga sekali bisa memiliki gaji dari hobi menulis. Kemampuan menulisku meningkat tajam dan aku merasa jago sekali, kala itu.


Namun, setelah memiliki pekerjaan, menulis kembali menjadi hobi yang tidak menghasilkan uang. Aku mendadak jadi merasa tumpul lagi. Ahhhhhh, mengapa begini. 


Baik menulis artikel ataupun menulis fiksi, tidak ada kemajuan sama sekali. Aku merasa nyaman dengan kondisi seperti ini, ambisi menurun karena tuntutan hidup sudah terpenuhi dengan pendapatan yang sekarang. Tampaknya, hidup dalam kondisi yang stabil membuat kemampuan menulisku menjadi tidak setajam dulu. Tapi, rasa sukanya tetap sama. Aku masih suka.    


Saat di toko buku, aku masih sering membeli buku catatan lucu yang aku niatkan untuk menulis catatan ide menulis. Buku itu punya sampul bergambar bunga kecil berwarna biru yang manis. Harganya sekitar 20 ribu, jadi aku merasa lupa ingatan kalau aku sebenarnya masih punya buku catatan merah mudah bergambar Chopper. Buku bunga warna biru itu kini duduk rapi di antara novel yang belum terbaca.


Aku juga khilaf lagi, karena pesan dari adikku yang menawarkan membelikan buku anak di festival buku. Harga buku anak hard cover 40 ribuan, aku beli 8 buku. Sungguh kaya raya. Ketika ditanya mau beli buku apa untuk kamu sendiri? Aku menjawab dengan pasti, “Mamaknya baca buku di Ipusnas aja”. Sungguh mengsedih.


Hahaha, sebenarnya alasan lainnya adalah buku TBR aku lagi numpuk banget, mulai dari Tari Lang yang pintu biru, 1984, sampai Babel-nya R.F Kuang juga belum aku baca. Hiks. Aku parah banget sih. Aku lagi keranjingan nonton drama cina melulu ini. Gimana?


Baca juga: Bullet Journal di Buku Chopper Merah Muda