Bulan November ini aku ingin mengeluh lagi bahwasannya otot menulisku kembali melemah karena Oktober kemarin aku tidak menulis sama sekali. Tapi, sudahlah. Aku juga sudah bosan menulis tentang keluhan. Aku mau menulis tentang gosip yang aku obrolkan dengan temanku saja tentang betapa tidak adilnya masyarakat kita sama perempuan. Gosip ini kami ceritakan sambil jogging lima kilo, aku terlalu keren kan? Well, kembali ke gosip itu.
Ambil contoh saja kasus perselingkuhan. Banyak cerita di mana pelaku perselingkuhan perempuan akan mengalami hukuman sosial lebih banyak daripada pelaku laki-lakinya. Hal ini semacam sudah jadi cerita umum, bahkan ada istilah untuk itu, pelakor. Padahal kan ya, perselingkuhan itu kan tidak akan terjadi kalau tidak ada dua orang yang sepakat untuk melakukannya bersama-sama.
Jadi, meski si wanita (kalau memang kasusnya di mana wanita yang menggoda duluan) flirting sama si pria ini, tapi kalau gayung tidak bersambut ya perselingkuhan tidak terjadi. Wanita memang memiliki banyak beban dan tututan dalam rumah tangga. Dituntut untuk bisa mengurus anak, mengurus rumah, dan anak. Kalau semuanya sudah dilakukan, tuntutan tetap tidak akan berhenti. Tuntutan lain seperti perlu menjaga bentuk tubuh dan penampilan, lalu wajah dan kulit agar suami tidak berpaling ke lain hati. Sialan memang.
Tapi, sekarang posisi perempuan sudah memiliki daya (listrik) yang lebih tinggi. Banyak perempuan yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, medsos dan banyaknya wawasan terkait apa itu rumah tangga yang baik. Ternyata, urusan anak dan rumah juga menjadi kewajiban suami. Ternyata, menjaga …. menjaga apa ya, aku hilang fokus.
Pada dasarnya, perempuan sudah memiliki wawasan yang lebih bagus terkait bagaimana diperlakukan dengan benar dalam rumah tangga. Ternyata laki-laki hobi judol itu gak perlu dipertahankan, ternyata laki-laki yang suka hutang diam-diam gak oke untuk jangka panjang, ternyata dan ternyata lainnya.
Btw, aku menulis ini sambil merasa bersyukur bahwa perempuan sekarang gak perlu merasa takut beda pendapat sama suami dan mertua. Gak perlu merasa malu kalau beli pembalut, bahkan sampai di titik bisa protes tentang pajak pembalut di medsos. Kita keren banget.
Sekarang, perempuan yang baru menstruasi sudah dirayakan seperti perayaan yang menyenangkan. Yeah, seharusnya memang seperti itu sih. Menstruasi berarti adalah tanda kita sudah mampu bertumbuh sampai di fase generatif, wkwk. Gak semua mahluk hidup bisa bertahan hidup sampai di fase ini. Kita memang mesti merayakannya. Sudah ah, tanganku sakit, kepalaku sakit karena aku menulis ini sambil mengantuk.
Baca juga: Endorfin





0 Comments
Post a Comment