Aku lagi males banget nulis, tapi harus nulis karena aku punya kuota 10 tulisan yang harus aku penuhi bulan ini. Jadi, aku mau curhat dikit aja. Kalimantan lagi banyak banget asap. Aku paham sih, biaya buka lahan itu gede banget. Iklim kemarau jadi semacam ajang yang bagus untuk ‘buka lahan’ dengan biaya nol rupiah. Tapi, biaya sebenarnya justru ditanggung satu pulau, satu negara. Nggak deng, ditanggung juga sama negara malaysia dan singapura.
Di daerahku yang berbatasan langsung sama Kalimantan Selatan ini, pemadam kebakaran jadi divisi paling sibuk selama musim kemarau. Bahkan, cuman jarak dua km dari rumahku juga ada kebakaran lahan. Kadang, di teras rumahku ada bekas abu bakaran yang menunjukkan betapa dekatnya domisili rumahku dari kejadian kebakaran.
Aku juga masih bekerja di luar ruangan, sementara kabut asap ini terus terjadi. Aku berasa hampa dan gak tahu mau menulis apa lagi selain mengeluh karena cuaca yang serba berat ini. Aku merasa kemarau di September ini menjadi ajang di mana kehidupanku jadi titik paling berat. Semoga Oktober nanti aku bisa istirahat sambil memilih novel yang bagus. Aku ingin bersantai baca buku baru sambil minum boost. Aku capek mak. Capek.
Sudah dua tahun ini, aku membenci september. Ada aja masalah kerjaaan di bulan september yang membuat aku galau. Aku bahkan gak bisa mengeluh masalah pekerjaan karena umurku sudah tua, aku sudah gak pantas buat nulis galau masalah kerjaan. Arrgh. Pengen minum soj* mak, tapi gak bisa karena asam lambung. Aku bahkan gak bisa minum soda dingin.
Sudah 300 kata belum?
Belum sepertinya. Aku mau menulis lagi tentang kecanduanku dengan minuman hydro coco. Aku waktu itu baru aja pulang dari lahan sawah yang notabenenya sangat panas. Aku masih pakai sepatu boots yang sangat gagah itu, masuk ke dalam indomaret yang sangat dingin. Segar!
Aku memilih minuman di dalam kulkas. Aku sudah naik sepuluh kilo sejak lulus kuliah, jadi aku mesti memilih minuman yang setidaknya memperlambat kenaikan berat badanku. Aku mau memilih kiranti, terlalu jamu. Memilih milo kaleng, berasa terlalu manis, aku pasti akan mudah baper (hahaha). Memilih minuman thai tea botolan, jelas tidak akan enak dan hanya berasa manis tanpa esensi, berasa mendengar gombalan cantik yang tidak dari dalam hati.
Akhirnya, aku memilih minuman dengan kemasan paling sederhana dengan kalori yang rendah. Hydro Coco. Duh, aku meminum itu dengan rasa haus dari lahan, sudah pasti minuman itu langsung habis sekali teguk. Aku ketagihan.
Aku sekarang sering nongkrong di depan indomaret, dengan baju lahan, sepatu boots, dan minuman hydro coco sambil memantau gosip artis di Threads.
Nice, sudah 400 kata. Di artikel selanjutnya aku akan membahas declan rice dan arsenal, di mana aku lagi ter ‘rice-rice’ banget sejak world cup.
Baca juga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan





0 Comments
Post a Comment