Saat masak tadi pagi, aku mendengarkan podcast Raditya Dika dengan psikiater sekaligus penulis buku yang bernama Andreas Kurniawan. Mereka sedang membahas buku terbarunya yang ketiga tentang topeng di kehidupan sehari-hari, judulnya adalah Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. 

Kurang lebih buku itu membahas tentang perilaku kita yang kerap berbeda saat di rumah, tempat kerja, dan saat di dalam circle pertemanan. Apakah itu berbahaya memiliki topeng yang berbeda-beda?


topeng manusia

Apakah Tidak Apa-apa Memakai Topeng di dalam Kehidupan Sehari-hari?


Jawabannya dari Andreas emang enak banget didengar, “Kita memang harus memiliki topeng yang berbeda di setiap situasi”. Topeng yang kita pakai saat bekerja jelas berbeda dengan topeng yang kita pakai di rumah. 


Istilah topeng itu bukan berarti kita menjadi sosok yang palsu. Kita sebagai manusia selalu memiliki sesuatu yang tidak bisa kita lakukan di depan orang lain, bahkan itu orang itu adalah pasangan kita sendiri. Misalnya saja buang air besar (contoh paling mudahnya). Aku sendiri memiliki buku diari yang isinya maki-maki suami sendiri saat sedang kesal sama dia. Well, kita memang selalu memiliki ‘topeng’ saat bersama orang lain. 


Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita bisa memiliki pasangan yang membuat kita nyaman, sehingga saat di rumah kita bisa memakai topeng yang sangat tipis. Kalau di pekerjaan, kita memang selalu dituntut untuk melakukan sesuatu, yang kadang bahkan di luar keinginan kita sendiri. Namun, saat di rumah setidaknya kita bisa melepaskan topeng tebal untuk bekerja menjadi topeng tipis yang santai. 


Aku suka banget sama pembahasan hal ini. Kadang, kita sebagai manusia bersalah karena merasa palsu. It’s oke, kita bukan palsu, kita hanya menyesuaikan situasi dan kondisi. Topeng di rumah jelas harus berbeda dengan topeng di tempat kerja. Topeng di circle komunitas jelas berbeda dengan topeng di rumah orangtua. 


Topeng itu sendiri memang akan terasa berat kalau terlalu tebal. Makanya, kita perlu memasukkan keinginan kita yang orisinal, ide yang menyenangkan diri sendiri, agar pekerjaan tidak terasa terlalu berat. Teman yang menyenangkan di lingkungan kerja, hobi yang membuat ketagihan di akhir pekan, ngobrol santai yang seru sama pasangan bisa membuat topeng kita tidak akan terasa sama sekali. 


Andreas juga menekankan betapa pentingnya manusia untuk terkoneksi dengan manusia lainnya. Kita akan selalu memiliki sisi kekanak-kanakan yang haus petualangan dan hal baru. Hubungan yang berkualitas dengan teman, misalnya bermain board game, ngobrol gak jelas sama pasangan, sudah bisa menjadi cara yang ampuh agar kita tidak merasa kesepian.       


Yeah, pekerjaan rumah kita sebagai orang dewasa mungkin adalah membuat hidup kita menjadi menyenangkan lagi seperti dunia anak-anak, sehingga kita gak perlu memakai topeng yang terlalu tebal.


Baca Juga:  Endorfin